Seniman Venezuela Mampu Menyulap Uang Menjadi Tas Karena Hiperinflasi

Harga sembako di Indonesia naik sedikit saja sudah membuat masyarakat mengeluh, namun apa daya dengan masyarakat Venezuela yang saat ini bahkan tidak bisa membeli satu buah tomat saja. Ini dikarenakan kondisi perekonomian Venezuela sedang terguncang oleh hiperinflasi sehingga mata uang yang berlaku disana yaitu Bolivar tidak berharga sama sekali. Namun siapa yang menyangka tumpukan uang ini bisa menjadi ladang bisnis di tangan seniman.

 

Hiperinflasi Membuat Uang Bolivar Menjadi Tas Anyaman di Venezuela

 

Hingga hari ini, hiperinflasi terus membuat perekonomian di Venezuela menjadi terguncang. Uang pun menjadi tidak berharga sama sekali dan banyak masyarakatnya yang mengungsi ke negara lain guna menghindari krisis moneter yang terjadi di negara Amerika Latin tersebut. Tetapi Edison Infante mampu mengubah Bolivar yang tidak memiliki nilai sama sekali ini menjadi dompet dan juga tas anyaman yang memiliki nilai bandar togel sangat tinggi. Bahkan semuanya memang terbuat dari uang kertas asli.

 

Infante menjual tasnya di Kota Cucuta yang lokasinya berada di perbatasan negara Kolombia sekitar 680 km jika dari Caracas, ibukota Venezuela. Infante menjual semua hasil karyanya yang terbuat seluruhnya dari uang kertas itu dengan harga mulai dari US$ 7 atau sekitar Rp 106.000 sampai dengan US$15 atau sekitar Rp 228.000. Sangat murah bukan bahkan dibandingkan tas lokal? Dengan uang asli yang disulap menjadi tas, Infante mengatakan ini cukup memenuhi kebutuhannya.

 

Selama 2 pekan, Infante mampu membuat dapur di rumahnya dan keluarganya mengebul karena hasil karyanya di tengah krisis moneter hiperinflasi yang melanda negaranya tersebut. IMF memiliki prediksi jika tingkat inflasi tahunan yang terjadi di Venezuela ini kemungkinan bisa mencapai sekitar 1.000.000% di akhir tahun 2018 ini. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Venezuela diketahui menciptakan mata uang yang baru dengan nama “Bolivar Berdaulat” dengan nilai sama.

 

Nilai mata uang yang baru ini sama dengan 100 ribu mata uang Bolivar yang lama akan tetapi, sepertinya mata uang yang baru ini tetap tidak mampu untuk meredam krisis ekonomi yang sudah terlanjur parah di Venezuela itu. Justru banyak pihak yang memberikan kritik jika adanya mata uang baru itu akan membuat krisis semakin parah. Di wilayah perbatasan, dapat dilihat ada banyak sekali penjual mata uang yang tidak resmi duduk di depan meja dengan tumpukan uang Bolivar lama.

 

Hiperinflasi Membuat Masyarakat Para Seniman Lebih Kreatif

 

Nilainya ada pecahan 20 ribu, 50 ribu hingga 100 ribu. Bolivar yang baru itu masih belum tiba juga di Cucuta, Kolombia sampai hari ini. Banyak sekali orang yang bekerja di Kolombia kemudian mereka menukar sekitar segenggam mata uang Kolombia dalam bentuk koin dengan banyak sekali tumpukan uang kertas Bolivar itu. Karena hiperinflasi ini, mata uang Bolivar yang nilainya pecahan kecil tidak dianggap sama sekali dan diperlakukan layaknya sampaj yang tidak memiliki nilai sedikitpun.

 

Justru Infante membeli banyak sekali tumpukan uang tersebut bukan untuk biaya hidupnya melainkan dibuat sebagai bahan untuk anyaman tasnya. Bahkan satu tumpuk uang Bolivia itu nilainya adalah setara dengan US$ 1 atau sekitar Rp 15.217 sehingga melampaui nilai yang sesungguhnya. Selain Infante, Jorge Cadero juga berprofesi yang sama untuk membuat tas dari anyaman uang. Dia mengatakan awal membuat tas anyaman ini hanya menggunakan uang kertas 2 hingga 5 Bolivar.

 

Namun sekarang, dia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa akan menggunakan uang senilai 5000 untuk membuat tas. Cordero pun juga mengakui bahwa skillnya untuk membuat anyaman tas dari uang kertas ini adalah ketika dirinya dipenjara namun tentu kala itu dia menggunakan kertas pembungkus atau majalah. Bagi mereka yang berprofesi sebagai seniman anyaman ini, hiperinflasi masih membuat mereka hidup lebih baik dibandingkan sebagian besar masyarakat yang lain.

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *