Marvel ‘dituntut’ Buat Film Berkarakter Wanita

Zoe Saldana, pemeran karakter Gamora dalam film Marvel Cinematic Universe, mengatakan bahwa dirinya dan juga sejumlah pemeran wanita di dalam film waralaba superhero itu bersemangat sekali bakal ada film Marvel yang semua pemerannya perempuan.

 

Ia juga mengatakan hal tersebut ketika dirinya diwawancara oleh majalah Women’s Health. Dirinya menyebutkan bahwa sempat membahas ide ini dengan Brie Larson yang mana memerankan Captain Marvel, dan juga Tessa Thompson yang memerankan Valkyrie serta Scarlet Johansson yang berperan sebagai Black Widow.

 

“Saat itu kami sedang saling bercakap-cakap dan (ide) tersebut sangat menyenangkan. Kami juga mulai merasa kuat, lebih berani juga, dan juga sangat terinspirasi dan telah diputuskan juga: Marvel mesti membuat film yang keseluruhan pemainnya d adalah perempuan!” ungkap Saldana.

 

Ia juga menyebut bahwa dirinya dan sejumlah pemeran Marvel wanita yang lainnya merasa saling terhubung dengan ide tersebut. pun juga dengan film itu ia sebut seperti pengungkapan pikiran dan juga perasaan wanita yang sesungguhnya. “Dan ini sangat penting kita mempunya film khusus perempuan. Perempuan kita membutuhkan ini. yang laki-laki juga butuh. Kita semua butuh,” lanjut Saldana.

 

Ibu dari 3 anak ini pun mengungkapkan ia dan para aktris lain disapa oleh bos dari waralaba MCU, Marvel Kevin Feige, tidak lama setelah wanita-wanita membicarakan soal ide itu. Juga Feige disebut oleh Saldana sempat ‘dipaksa’ atau ‘dituntut’ untuk berdiskusi soal ide tersebut.

 

“Dia sangat kewalahan karena kami semua berbicara di saat yang bersamaan, dengan semua semangat togel hongkong ini. kami tak akan membiarkan  dia pergi,” lanjut Saldana sembar tertawa lepas.

 

Karakter Perempuan Lain yang dikabarkan Jadi Highlight Marvel

Sementara itu, Feige belum memberikan konfirmasi soal proyek lepasan Marvel yang Cuma berisikan karakter-karakter perempuan. Akan tetapi dikabarkan dirinya sudah menyebut sebuah proyek menarik yang lainnya yakni Ms. Marvel.

 

Dalam wawancaranya pada salah satu media Inggris, Feige menyebutkan bahwa Ms. Marvel adalah karakter lain dari Kamala Khan, seorang superhero Amerika yang mana seorang turunan Pakista yang asalnya dari New Jersey. Khan sendiri adalah karakter Marvel pertama yang disebutkan sebagai seorang Muslim.

 

“Pastinya Ms. Marvel masuk ke dalam (rencana) proyek,” ungkap Feige. “Ia adalah karakter lain dari buku komik, superhero Muslim yang mana terinspirasi oleh Captain Marvel. Kami mempunyai rencana itu setelah kami mengenalkan film Captain Marvel kepada dunia,” tukasnya.

 

Sementara itu, diberitakan dari CNN Indonesia, Captain Marvel rencananya akan tayang di bioskop di musim semi tahun depan yakni 2019 dan yang menjadi kandidat paling favorit dari netizen untuk bisa memerankan Ms.Marvel adalah Priyanka Chopra.

 

Karakter perempuan lain yang mana dikabarkan akan menjadi perhatian MCU adalah adik dari Black Panther atau T’Challa, Shuri. Wakanda bisa saja menjadi negara yang sangat maju karena adanya Vibranium. Akan tetapi kita tak boleh melupakan jasa dari adik T’Chall, Shuri yang menyumbang banyak ide. Ia adalah gadis muda yang sangat jenius dan brilian.

Shuri merupakan kunci untuk serangkaian teknologi yang mana menempel di tubuh kakaknya, Black Panther. Kostum anti peluru sampai dengan alas kaki yang tidak bersuara juga diciptakannya untuk sang kakak yang menjadi pemegang takhta baru warisan dari sang ayah.

 

Shuri digadang-gadang akan dimunculkan oleh MCU dan akan menjadi highlight bahkan di beberapa film Marvel yang berikutnya juga.

 

Acara Berbau Mistis di Indonesia Akan ‘Kembali’ Populer?

Kehadiran tayangan Karma, yang ada di salah satu TV swasta Indonesia bukan Cuma menyita perhatian pemirsa, namun juga lembaga studi dan juga pemantauan media, Remotivi. Di awal bulan Mei ini, Removiti, dilansir dari CNN Indonesia, merilis hasil studi dalam bentuk video tentang acara yang mana menyuguhkan masalah pribadi orang lain dan juga dibumbui dengan unsure mistis tersebut.

 

Karma Buka Jalan Acara Mistis Kembali Lagi

“Karma sendiri adalah pewaris sah panjang dari tradisi kawin silang antara media dan mistisisme,” ungkap narrator dalam video yang memiliki durasi 9 menit itu. setelah menjelaskan dan menampilkan sejumlah cuplikan keganjilan yang mana ada di acara Karma, Remotivi akhirnya juga memaparkan riwayat tayangan dengan unsure mistis dan juga bagaimana perkembangannya yang kemudian bisa mepengaruhi pola pikir pemirsanya.

 

Ketika dihubungi, Wakil Direktur Remotivi yang mana menjabat juga sebagai penulis naskah dari video Karma di Balik Karma yang ditayangkan oleh ANTV, Yovantra Arief menuturkan soal alasan bagaimana acara dengan genre yang demikian itu bisa lumayan mendapatkan tempat dan akhirnya bisa digandrungi oleh banyak orang di Indonesia.

 

“Masalah kultur adalah salah satu yang mana paling dominan. Kultur ini sendiri sebenarnya bisa dikembangkan ke dalam bentuk yang beda. Akan tetapi, TV dan media membutuhkan yang bombastis yang fenonemal juga agar bisa menarik perhatian para penonton di TV,” imbuhnya lebih lanjut lewat sambungan telepon.

 

Kemunculan Karma yang ada di ANTV tersebut kemudian disebut-sebut sebagai pembuka jalan tayangan togel singapura yang berbau mistis kembali lagi ke TV setelah sempat populer dengan berbagai acara mistis yang lainnya misalnya saja Dunia Lain, Mister Tukul Jalan-Jalan dan lain sebagainya.

 

“Ya ini adalah dinamika TV. Hal mistis itu bisa dikatakan musiman, ada masanya laku banget, namun kemudian mati dang anti lagi dengan hal seperti joget-joget kemudian nyanyi. Karma ini sendiri pembuka jalan tayangan seperti ini kembali lagi ke TV,” ujarnya lebih lanjut.

 

Perkembangan Tayangan Horor di Indonesia

Acara mistis sendiri sebenarnya telah merajalela di TV Indonesia semenjak era Orde Baru. Genre horor berkembang dengan sangat pesat di Indonesia sesudah meledaknya film berjudul Ratu Ular pada tahun 1972.

 

Menjamurnya film horor saat itu, menurut studi Remotivi yang dikutip dari CNN Indonesia juga, bisa turut memicu Kode Etik Badan Sensor Film di tahun 1980 yang mana mewajibkan tokoh protagonisnya religius sebagai sosok penyelamat dalam tayangan horor. Hingga akhirnya pada akhir era Orde Baru, paham mistis itu muncul di TV seiring dengan tumbuhnya stasiun TV swasta lewat tayangan-tayangan horor misalnya Si Manis Jembatan Ancol dan juga Tuyul dan Mbak Yul.

 

Tayangan-tayanga yang demikian lah yang sempat menimbulkan kontroversi karena banyak pihak menganggap tayangan tersebut dapat menjauhkan masyarakat dari agama atau juga dari realitas. Meskupun demikian, unsure mistis di layar kaca tidak lantas sepenuhnya hilang begitu saja. “Seiring lengsernya Orde Baru, mistisisme ini menjamur dan juga hadir dalam berbagai bentuk miusalnya seperti Silet sampai dengan Reality Show seperti Dunia Lain,” kata narrator di video hasil studi dari Remotivi itu.

Menurut Yovantra, padahal media berhak untuk menyuguhkan hiburan yang berkualitas yang mana dibutuhkan oleh penonton. Begitu pun, penonton berhak menentukan pilihan juga dan memberi masukan apabila ada tayanga TV yang dianggap bermasalah bagi masyarakat.