Perseteruan PKS dan Fahri Hamzah Memanas di Kepolisian

Perseteruan yang melibatkan Presiden PKS, Sohibul Iman dan juga Fahri Hamzah, ikut menyeret Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jurie. Dan babak baru dari kisruh Fahri yang melawan institusi PKS ini bergulir di kepolisian.

Kisruh Makin Panas

Usai diperiksa atas laporan yang diajukan oleh Fahri, Salim menyatakan bahwa pemeriksaan dirinya dalam kasus itu tidak terhindarkan. Walaupun, Fahri mengaku ingin menghindari hal tersebut. “Saya pikir keliru, ya, karena yang melaporkan Fahri. Saat Fahri melaporkan presiden PKS, pastinya kaitannya sama saya juga. Kaitannya dengan Ketua Majelis Syuro pasti lah itu,” ucapnya pada hari Rabu (2/5) kemarin.

Fahri juga melaporkan Sohibul atas dugaan pencemaran nama baik. Laporan tersebut terdaftar dalam laporan yang bernomor LP/1265/III/PMJ/Dit.Reskrimsus dengan tanggal 8 Maret 2018. Dalam laporan itu, Sohibul terancam dengan Pasal 27 Ayat 3 dan juga Pasal 43 Ayat 3 UU soal Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau Pasal 311 KUHP dan atau 310 KUHP.

Sebelumnya juga, Fahri Hamzah meminta Presiden PKS, Sohibul Iman, langsung menhadapi laporan yang mana dilayangkan oleh dirinya seorang diri itu dan tak menyeret nama Salim. “Ia harus hadapi sendiri ini, dan ini dia persoalan pribadi jadi jangan ngaja-ngajak partai dong, kan kasihan sudah pemilu, persiapan pemilu, dia malah seret-seret, tanggung jawab lah sendiri dong, hadapi sendiri,” kata ahri di Mapolda Metro Jaya, kemarin, Rabu (2/5).

Sebab Permasalahan Fahri vs Sohibul

Laporan Fahri yang dilayangkan ke polisi itu pasalnya didasarkan pada pernyataan Sohibul pada CNN Indonesia di televisi pada tanggal 1 Maret 2018, di mana tentang kronologi pemecatan Fahri. Pada awalnya, Sohibul meminta Fahri untuk mundur dari posisi Wakil Ketua DPR guna ditempatkan di BKSAP (Badan Kerjasama Antar Parlemen) DPR, pada Oktober 2015.

Fahri akhirnya menyetujuinya. Akan tetapi ia meminta waktu sampai dengan akhir tahun karena sudah ada janji agenda dengan DPR yakni sebagai pimpinan DPR. Namun di bulan Desember 2015, malahan Fahri nyatanya tak mau dirotasi dengan membuat banyak sekali alasa. Kemudian PKS memecat Fahri dari segala jenjang keanggotaannya di partai tersebut pada bulan April 2016.

Anggota DPR dari daerah pemilihan NTB tersebut lalu menggugat pemecatannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada bulan Desember 2016, PN Jaksel akhirnya memenangkan gugatan tersebut. kemudian PKS mengajukan banding akan tetapi ditolak oleh Pengadilan Tinggi Jakarta.

PKS tak lantas menyerah, mereka kembali lagi mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Dan sampai saat ini kasus itu belum juga menemui putusan. Belum selesai adanya kasasi PKS ke Mahkamah Agug, kemudian Fahri melaporkan Sohibul ke Polda Metro Jaya karena pernyataan itu.

Sebelum diperiksa oleh pihak kepolisian, Salim sendiri menyatakan bahwa kesaksian dari Sohibul tentang pemecatan Fahri itu benar. “Saya bersaksi dengan sebenar-benarnya di hadapan penegak hukum bahwasanya pernyataan-pernyataan Sohibul Iman yang dimuat di CNN Indonesia (TV) dan juga Detik.com pada tanggal 1 Maret 2018 adalah benar adanya dan sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi,” katanya dalam siaran pers yang mana dimuat di laman pks yakni pks.id hari Rabu (2/5) kemarin.

Salim sendiri pasalnya memiliki peran dalam putusan pemecatan Fahri karena ia adalah salah satu dari 3 petinggi PKS yang menasehatinya pada tanggal 1 September 2015 silam. Dua lainnya adalah Sohibul dan Hidayat Nur Wahid.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *