Kisah Bayi Debora Pulang Tanpa Nyawa

Tangis pilu sangat dirasakan oleh ibunda bayi Debora, Henny Silalahi hanya bisa menangisi kepergian sang putri kecilnya untuk selama-lamanya yang masih berumur empat bulan. Bayi Debora diduga meninggal karena keterlambatan pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit karena terbentur biaya. Henny sangat kecewa terhadap layanan yang diberikan rumah sakit sehingga membuat nyawa anaknya melayang.

 

Kronologi bayi Debora hingga tak bernyawa

Kejadian bermula sekitaran pukur 03:00 dini hari, Henny dan suami membawa Bayi Debora karena secara tiba-tiba sesak nafas. Henny langsung membawa putrinya ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan tanpa berpikir mengenai rumah sakit tersebut mau menerima BPJS atau tidak.

 

Setelah sampai di salah satu RS daerah Jakarta Barat, Debora dilarikan ke UGD serta langsung ditangani oleh dokter. Kemudian dokter mengatakan jika Debora harus dimasukkan ke dalam ruangan PICU (Perinatology intensive care unit) karena hangat. Henny hanya mengikuti saran dokter demi keselamatan anaknya, karena menurutnya dokter lebih memahami yang terbaik untuk Debora.

 

Namun Henny tersadar, jika biaya layanan PICU tak murah, dan bagian administrasi raja poker mengatakan biaya masuk PICU harus terlebih dulu membayar DP 19 juta rupiah atau 50% sekitar 11 juta rupiah, ungkap Henny. Henny dan suami hanya membawa 7 juta bahkan sudah terpakai 2 jua untuk biaya administrasi, Henny meminta bagian Administrasi menerima uang 5 juta tersebut sebagai jaminan. Namun pihak administrasi tetap meminta Henny membayar uang sebesar yang diminta.

 

Bahkan Henny sudah Bersimpuh dan berjanji untuk melunasi kekurangannya, namun tetap tak bisa. Kemudian suaminya pulang untuk mencari sisa uang untuk bisa mengumpulkan sebesar nominal yang di minta agar bisa masuk ke PICU. Henny berusaha menghubungi teman-temannya untuk meminta mencarikan RS yang memiliki ruang PICU serta menerima BPJS.

 

Namun Henny tak kuasa melihat tubuh bayi Debora yang terbujur kaku, belum mendapatkan perawatan memadai, nyawa bayi Debora sudah melayang. Melihat Henny mengangkat Debora, dokter hanya mengucapkan turut berbelasungkawa lalu kembali duduk ke tempat meja kerjanya.

 

Pihak RS menawarkan Ambulance mengantar jenazah Debora karena hal tersebut aturan dari RS, henny menyebut jika giliran seperti itu mereka ingat aturan sedangkan menyelamatkan nyawa Debora mereka tak ingat. Karena kecewa Henny menolak dan membawa Debora pulang dengan sepeda motor.

 

Keluarga bayi Debora harapkan pihak rumah sakit minta maaf

Henny sadar jika takdir putrinya hidup di dunia sebentar saja, namun dirinya lebih ikhlas melepas kepergian Debora jika sang putri mendapat perawatan memadai dan terbaik dari RS tersebut. Tak banyak diharapkan oleh Henny kepada pihak RS yang menangani putrinya, baginya putri kecilnya tak bisa kembali. Dirinya hanya berharap agar kejadian yang menimpa Debora tak terulang lagi pada Debora- Debora lainnya. Henny juga mendatangi KPAI dan berharap bisa menjadi perhatian bagi KPAI agar membuat sistem serta memastikan efektifitas kesehatan Indonesia.

 

Tim pengacara Henny, Brigaldo Sinaga menyampaikan, pihak keluarga Debora tak menuntut untuk ganti rugi kepada pihak RS, namun pihaknya hanya meminta agar pihak rumah sakit meminta maaf dan menyatakan kesalahannya dan kemudian menyampaikan empatinya.

 

Brigaldo menambahkan, hal ini agar bagi pihak RS yang berkaitan dan RS lainnya di seluruh Indonesia tak mengulangi kesalahan tersebut kepada pasien yang kurang mampu. Sehingga kepergian Debora menjadi martir untuk kehidupan bayi-bayi yang lain.