Kementrian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa sanksi bari yang mana dijatuhkan oleh Amerika Serikat terhadap Moskow telah mengonfirmasi “agresivitas ekstrem AS dalam politk luar negeri.” Rusia menuding Amerika Serikat menggunakan sanksi dengan tujuan menciptakan “kompetisi yang menguntungkan bagi Amerika Serikat dalam ekonomi global” dan menyebut bahwa langkah Negeri Paman Sam sudah melanggar hukum internasional.

Ada Sanksi Baru untuk Rusia dari AS

Kemlu AS, dikutip dari CNN Indonesia, menyatakan, “Sanksi itu pemerasan yang mana ditujukan guna membatasi interaksi Rusia dengan mitra asingnya. Ini bisa mengancam bisnis internasional dan juga banyak negara.”

Sebelumnya, dalam konferensi pers yang diadakan pada hari Kamis (27/7) di Finlandia, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan bahwa ia “amat menyesalkan” memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Rusia. Putin menyebutkan hal itu terjadi karena adanya “hysteria anti-Rusia” yang mana berkembang di politik domestic AS sendiri. ia juga menambahkan, ada banyak diplomat Rusia yang diusir dari AS “tanpa alasan yang jelas”. Ia memperingatkan bahwa hal itu bisa membuat Kremlin “harus merespon dengan keras.”

Dari sisi lainnya, Menteri Luar Negeri Rusia, Serget Lavrov mengatakan bahwa dirinya sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, untuk mendiskusikan mengenai sanksi terbaru itu. kemlu Rusia mengatakan bahwa dua Menlu itu bakal terus mempertahankan kontak dengan “seluruh lingkup hubungan Rusia-AS.” Lavrov juga menambahkan bahwa keputusan untuk memulangkan ratusan diplomat AS dari Rusia dan juga menutup 2 properti yang dimiliki Negeri Paman Sam ini merupakan respons dari “rangkaian langkah kejam” yang mana dilakukan oleh Washington.

Meskipun demikian, Lavrov juga memastikan bahwa Rusia tetap membuka kesempatan untuk berdialog untuk menormalkan kembali hubungan bilateral dan juga akan tetap bekerjasama dalam masalah penting di wilayah internasional. Adapun sanksi bari itu akan menambah paket sanksi terkoordinasi yang mana dijatuhkan AS dan Uni Eropa pada tahun 2014 akibat aneksasi Crimea dan juga interfensi Rusia dalam konflik Ukraina Timur.

Secara garis besar, sanksi itu ditujukan untuk memukul ekonomi Moskow dan juga membatasi pergerakan individu dan perusahaan Rusia dengan melakukan larangan perjalanan dan pembekuan aset. Uni Eropa memperpanjang sanksi ekonomi dewa poker kepada Rusia bulan lalu. tetapi, para pemimpin Uni Eropa memperingati Amerika Serikat bahwa blok itu bakal bertindak dala beberapa hari apabila tidak menerima kepastian mengenai dampak potensial dari sanksi baru AS terhadap kepentingan Eropa.

Kekhawatiran Akan Sanksi Baru

Sanksi yang sudah disebutkan itu memunculkan suatu kekhawatiran. Mereka cemas sekali kalau sanksi tersebut bisa menghambat proyek energy utama di Eropa dan bisa mengobarkan perpecahan internal blok kawasan itu. menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, mengatakan pada hari Jumat (28/7) lalu bahwa bola sekarang ini ada di tangan presiden Amerika Serikat, Trump. ‘Kami untuk saat ini masih ingin bekerjasama. Kita tidak boleh melupakan apa yang dipertaruhkan yaitu mengatasi konflik yang ada di Ukraina Timur. Kami semua setuju bahwa dibutuhkan tekanan politik di Moskow. Ini dia alasan dan juga standar untuk sanksi Eropa, tak lebih, tak kurang,” jelasnya.

Di samping itu, Gabriel juga mengatakan bahwa Jerman tak akan menerima “penerapan luar biasa” dari sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan Eropa. Sanksi dianggap bukan sebuah instrument, menurutnya. “Dan tidak memadai untuk mempromosikan kepentingan ekspor nasional dan sektor energi dalam negeri,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *